MI MAZRAATUL ULUM 02 PACIRAN KAB. LAMONGAN JAWA TIMUR

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI MEMBACA SISWA KELAS 1 SD/MI MELALUI METODE CANTOL

 

 

Keempat kompetensi bahasa,  yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis terjadi melalui proses berbahasa dan berpikir. Anderson dkk. (1969) melukiskan terjadinya peristiwa membaca sebagai berikut “Reading is very complex it requires a concentration”. Dengan rinci Sudarsono (1988) melukiskan proses terjadinya membaca sebagai berikut. “Unsur utama membaca adalah otak. Mata hanya alat yang menghantarkan gambar otak. Cahaya dari bacaan masuk ke mata melalui selaput bening (kornea mata). Cahaya itu disalurkan oleh selaput pelangi dan terjadilah gambaran pada retina. Retina itu terdiri dari berjuta-juta reseptor cahaya yang mengubah energi cahaya menjadi syarat dan disampaikan ke otak. Di korteks pada otak, syarat-syarat itu oleh sel neuron yang berjumlah 10 juta itu dicetak dan direkamnya menjadi gambar. Disinilah terjadi  membaca.

            Untuk memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman tentang kompetensi membaca, perlu dikaji dasar-dasar membaca sebagai berikut : (1) Membaca adalah suatu peristiwa psikologis dan fisiologis yang bersifat individual. Proses psikologis tentang peristiwa membaca secara mendasar telah di atas. Bahwa oleh cahaya bacaan masuk ke mata dan oleh saraf sensoris sebagai reseptor diteruskan ke pusat bahasa, yaitu pusat pembentukan kalimat dan langsung ke pusat berpikir. Setelah diolah melalui proses transendensi bacaan dikembalikan melalui reseptor di mulut dan alat-alat ucap, terjadilah peristiwa membaca. Dalam proses ini, tidak hanya terjadi proses psikologis, yaitu berpikir, tetapi sekaligus peristiwa fisiologis, yaitu bekerjanya alat-alat ucap sewaktu membaca. Sudah dikatakan bahwa selain alat-alat produksi suara produksi suara, juga berperan hal-hal grafis, yaitu besar, bentuk, dan jenis huruf, gambar atau kertas. Hal lain yang perlu diperhatikan di sini adalah membaca itu peristiwa individu. Apabila perkembangan berpikir atau mata seorang seorang peserta didik terganggu, perkembangan membaca orang itu pun akan terganggu. Ada orang terlambat, malah gagal dalam membaca. Jangan lupa bahwa ada orang yang menderita “aleksia”, yaitu hilangnya kesanggupan membaca. Konon Thomas Alfa Edison dan mantan Perdana Menteri Inggris Churchil tergolong di sini. (2) Pendidikan dibangun di atas keterampilan membaca (Arthur W. Hilam, 1961). Memang tingkat intelek seseorang menentukan sikap membaca orang itu baik kecepatan, minat, frekuensi, maupun tingkat komprehensif membacanya. Mahatma Gandi, Ir. Soekarno, dan John F. Kennedy tergolong pembaca kelas dunia pada zamannya. (3) Dianogsa kemampuan dan daya baca seseorang sejak dini sangat perlu diperhatikan oleh para orang tua dan guru yang melaksanakan pembelajaran membaca permulaan (MP) di SD/MI Kelas I, II, dan III.

            Kompetensi membaca dapat dibedakan atas beraneka jenis, antara lain sebagai berikut. (1) Dilihat dari tingkat usia, membaca dibedakan sebagai berikut. (a) Membaca permulaan (beginning reading) disingkat MP. Membaca permulaan dimulai dari Kelas I s.d. III SD/MI. (b) Membaca lanjut (intermediate reading) disingkat ML. yang berlaku di kelas IV s.d. VI SD/MI. (c) Membaca mahir (advanced reading) disingkat MM yang berlaku untuk SLTP Kelas I ke atas. (2) Apabila dilihat dari suara baca, membaca dibedakan atas dua jenis, yaitu membaca bersuara (oral reading) dan membaca tidak bersuara (silent reading).

            Saat ini telah ditemukan sebuah metode membaca cepat yang diadaptasi dari quantum learning oleh Drs. Ali Mustofa. Dalam metode tersebut pengenalan huruf dikemas dalam bentuk suku kata. Kemudian untuk memudahkan ingatan anak, diberikan cara mengingat kreatif dengan sistem cantol yang mengaitkan huruf atau sebuah kata dengan gambar.

            Dalam beberapa uji coba baik pada anak usia TK maupun SD/MI Kelas I, metode membaca tersebut terbukti telah sukses mempercepat kemampuan anak untuk membaca. Pada usia TK dibutuhkan waktu rata-rata 6 bulan atau 1 semester untuk bisa membaca, sedangkan pada anak SD/MI kelas I  rata-rata dibutuhkan waktu 2 bulan. Relatif sangat pendek bila dibandingkan dengan metode membaca yang lain.

 

*) Penulis : Ahmad Farid, S.Pd.

Guru MI Mazraatul Ulum Paciran

Kabupaten Lamongan

 

SEJARAH SINGKAT PERKEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN MAZRAATUL ULUM PACIRAN

PACIRAN sebuah nama ibukota kecamatan yang letak geografisnya sangat strategis pada saat itu, dengan penduduk mayoritas beragama Islam. Satu-satunya sarana untuk mengamalkan Islam bagi generasi muda saat itu hanyalah Madrasah Islam Paciran yang lokasinya berada di depan Masjid Jami’ At-Taqwa Paciran.Dalam perkembangannya para kyai dan tokoh-tokoh NU mulai berpikir bagaimana cara menyelamatkan generasi muda NU dalam mengamalkan Islam Ala Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Oleh karena itu pada tanggal 30 April 1958 didirikanlah sebuah sekolah yang diberi nama SRNU oleh para tokoh sebagai berikut : KH. Rowi, K. Sholeh, KH. Asrori, KH. Hasyim / H. Somiun, Bpk. Muadhim, dan Bpk. Musliman. Dalam perjalanannya nama SRNU lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan SRINU (Sekolah Rendah Islam NU). Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan, maka pada tahun 1963 nama SRNU diubah menjadi MINU (Madrasah Ibtidaiyah NU). Oleh pengurus madrasah dengan ketua Bapak Abdul Kholiq Ismail. Bersamaan dengan itu pula lahirlah sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama PGA NU oleh Bapak Fatchur Rachman dengan dibantu oleh beberapa guru yang antara lain : Bpk. Nursalim, Bpk Husnul Khuluq, Bpk Saonan Faruq Legowo, dan Bpk. Muzayin. Sayang perjalanan lembaga tersebut hanya 1 tahun, lalu kemudian bubar.Pada tahun 1964 / 1965 lahirlah Madrasah Mu’allimin Mu’allimat NU 6 Tahun± Paciran oleh pengurus madrasah yang diketuai Bapak Muadhim. Sebagai kelanjutan dari MINU tadi, namun dalam perjalanannya sangat berat sekali karena jumlah siswa yang terbatas, sehingga untuk mengikuti Ujian Negara saja ada kelas yang harus ‘berkorban’ untuk menunggu kelas bawahnya dan ambil kelas yang sudah keluar tapi belum mengikuti ujian tersebut lalu dikumpulkan menjadi satu untuk diikutsertakan Ujian Negara. Mengingat tugas pokok Bapak Muadhim sebagai ketib (pegawai KUA) di Sendang, maka pada tahun 1966 ketua pengurus diserahkan kepada Bapak K. Abdul Wahab Ismail.Kemudian pada tahun 1968 Ketua pengurus Madrasah NU Paciran dipegang oleh Bapak KH. Asyhuri Syarqowi yang pada saat itu Kepala MINU-nya sudah dipegang oleh Bapak Suhamdi Rowi, sedang Kepala Mu’allimin Mu’allimat oleh Bapak Hasan Dadang Sudarsono. Sesuai dengan hasil keputusan sidang terbatas yang dihadiri oleh : KH. Asyhuri Sarqowi, K. Husen Syarqowi, Bpk. Suhamdi Rowi, Bpk. Anwar Ghoni, Bpk. M. Hasyim Ilham, dan Bpk. Hasan Dadang Sudarsono. Dengan mengambil tempat di kediaman KH. Asyhuri Syarqowi. Nama Madrasah NU Paciran ditambah dengan kalimat yang akhirnya berubah menjadi Madrasah Ibtidaiyah / Mu’allimin Mu’allimat MAZRO’ATUL ULUM Paciran. Nama Mazro’atul Ulum diambil karena diilhami oleh lokasi sekolah yang berada di ladang / sawah daerah Mbohol atas usulan K. Husen Syarqowi. Hal ini terjadi pada tahun 1969, mengingat situasi politik pada saat itu dan GUPPI sudah mulai bergerak sedangkan para kyai dan tokoh NU tetap komitmen untuk mengamalkan Islam ala Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Kemudian pada tahun 1970-1971 ketua pengurus dipercayakan kembali kepada Bapak K. Abdul Wahab Ismail.Seiring dengan kebijaksanaan Pemerintah RI dan perkembangan jaman pada tahun 1971 perjalanan Madrasah Mu’allimin Mu’allimat NU 6 Tahun berakhir dengan melahirkan lulusan angkatan Muhtarom dkk. Yang mengikuti Ujian Aliyah di PP. Bahrul Ulum Jombang tanggal 29 Oktober s/d. 5 Nopember 1975. Bersamaan dengan itu pula di Madrasah Mazro’atul Ulum Paciran juga ujian MTs angkatan Imam Wahyono dkk, sayang hasil ujian tersebut dianulir / dibatalkan oleh Pemerintah dengan alasan bahwa di Babat sudah ada Rayon MTs sebagai induk rayon di Kabupaten Lamongan, sedang Mazro’atul Uum Paciran bergabung dengan Rayon Tambak Beras Jombang. Pada tahun 1976 resmilah Mu’allimin Mu’allimat 6 Tahun berubah menjadi MTs dan MA Mazro’atul Ulum Paciran dengan ditandai penyelenggaraan ujian angkatan Imam Wahyono dkk. Dengan kemajuan dan prestasi yang diakui oleh masyarakat sekitar serta kegigihan pengurus madrasah bersama kepala sekolah dan seluruh dewan guru, maka pada tahun 1980 lahirlah TK Muslimat NU 02 Paciran dengan memanfaatkan tanah milik NU di Nggunung. Lalu pada tahun 1982 di tempat yang sama pula berdiri MI 02 dan SMA Mazro’atul Ulum Paciran. Pada tanggal 17 Agustus 1993 lahirlah Yayasan Mazro’atul Ulum Paciran dengan ketua KH. Muhammad Zahidin. Kemudia sejak tahun 2000 s/d sekarang Pengurus LP. Mazro’atul Ulum Paciran dipercayakan kepada KH. Ahmad Suhamdi Rowi, SH. MP.d. Dan dalam rangka pengembangan pendidikan pada tahun 2005/2006 berdirilah TK Muslimat NU 03 Filial Penanjan.(*)

*) Dikutip dari beberapa sumber

SETENGAH ABAD MAZRA’ATUL ULUM PACIRAN

LAMONGAN; Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Mazra’atul Ulum Paciran, Lamongan kini telah berusia setengah abad. Embrio sekolah ini berdiri sejak tahun 1958 yang dulu bernama SRINU (Sekolah Rendah Islam Nahdlatul Ulama) yang kemudian bermetamorfose menjadi MINU, sebutan yang lebih populer sampai sekarang. Lembaga tersebut telah mengelola pendidikan formal dan non formal seperti : TPQ, Ponpes, PAUD, TK, MI, MTs, MA, dan SMA. Dalam momen ulang tahun emas telah digelar beberapa even mulai 29 Juni s/d. 8 Juli lalu. Diantaranya ziarah kubur muassis, pentas kreasi anak TK, kirap pelajar & drum-band, khitanan massal, lomba bola voli, temu alumni, lomba karaoke qosidah & puisi, pentas seni, muwadda’ah / wisuda purna siswa. Hadir dalam even pembukaan (opening ceremony) Wakil Bupati Lamongan, Drs. H. Tsalis Fahami, MM. Dalam sambutannya Wabup mengamanatkan pentingnya pendidikan berbasis agama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada even muwadda’ah (8/7) Syuriah PWNU Jatim, KH. Agus Ali Masyhuri juga menyampaikan urgensi pendidikan berbasis spiritualitas. Dalam ceramahnya Gus Ali –panggilan populer beliau- menyinggung fungsi dari firman perdana Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yakni lafadz Iqra’ (Q.S. Al-Alaq: 1-5). Di mana menurut penuturan beliau lafadz tersebut berfungsi sebagai wahana untuk mengenal Tuhan (Rabb), wahana untuk membuka cakrawala pengetahuan, dan wahana untuk membaca fenomena alam semesta.  Dalam ceramahnya seringkali Gus Ali menyerukan sholawat nabi yang menjadi ciri khas pengasuh Ponpes Bumi Sholawat Sidoarjo tersebut, sehingga para hadirin seakan terhipnotis untuk menyimak ceramahnya. Sebelumnya (6/7), juga digelar even temu alumni (reuni) mulai angkatan 1958 sampai angkatan 2008. Dalam acara tersebut dihadiri para alumni dengan beragam profesi seperti politisi, praktisi pendidikan, aktivis LSM, dll. Acara itu menghasilkan komitmen para alumni untuk lebih peduli terhadap kelangsungan almamater dan perlunya revitalisasi organisasi himpunan alumni sekolah tersebut.(*)

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Juli 2017
S S R K J S M
« Des    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Komentar Terbaru

mimazulum01 di KOMPETENSI MEMBACA
Aris Felani di KOMPETENSI MEMBACA

Blog Stats

  • 1,008 hits

Flickr Photos

Klik tertinggi

  • Tidak ada